PANGKALPINANG — Gelombang pembenahan menyapu Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang. Mengawali tampuk kepemimpinannya, Kepala Lapas (Kalapas) baru, Febie Dwi Hartanto, mengambil langkah mendasar: turun langsung ke garis depan pertahanan guna memastikan seluruh lini pengamanan, tata kelola pelayanan, hingga program pembinaan narapidana berjalan tanpa celah.

Langkah inspeksi mendadak ini ditegaskan lewat pengarahan berdaya dorong tinggi di hadapan ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan tahanan di lapangan olahraga usai agenda olahraga bersama, Kamis (27/8).

Febie melayangkan pesan keras sekaligus konstruktif. Ia meminta seluruh warga binaan tidak melakoni masa hukuman sebatas formalitas, melainkan memanfaatkannya sebagai wadah rehabilitasi karakter dan adab. Dalam pesannya yang menohok, ia menegaskan garis batas hukum di dalam lapas—termasuk ketegasan tanpa kompromi terhadap keberadaan barang terlarang seperti telepon seluler.

“Seperti uang yang memiliki nilai, ia akan diterima di mana pun berada. Karena itu, gunakan kesempatan ini untuk membentuk diri menjadi pribadi yang terampil, berkarakter, dan siap menjalani kehidupan setelah bebas,” tegas Febie dengan nada tajam di hadapan para warga binaan.

Sebagai solusi kompensasi atas larangan ponsel gelap di dalam sel, pihak lapas mewajibkan para narapidana memanfaatkan sarana resmi Warung Telekomunikasi Khusus Pemasyarakatan (Wartelsuspas) untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga secara terkontrol dan transparan.

Konsolidasi Internal dan Penyisiran Blok Hunian

Gebrakan Febie sejatinya telah ditabuh sehari sebelumnya, Rabu (26/8) sore. Dalam konsolidasi internal bersama jajaran pejabat struktural, ia menegaskan pentingnya penyatuan visi operasional guna memperketat keamanan dan memangkas kelemahan pelayanan.

Febie tak sekadar memberi arahan dari balik meja. Ia memimpin langsung penyisiran ke berbagai titik krusial: mulai dari ruang kerja petugas, ruang pembinaan, fasilitas pelayanan publik, hingga menyisir lorong-lorong blok hunian warga binaan.

“Kepemimpinan harus diawali dengan melihat langsung kondisi lapangan. Seluruh aspek akan kita tingkatkan secara bertahap,” ujar Febie menegaskan filosofi kepemimpinannya.

Merusut ke jajaran operasional, Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban (Kamtib), Ade Saputra, menyatakan jajarannya berada dalam posisi siap tempur untuk mengeksekusi instruksi Kalapas baru demi menata ulang iklim pemasyarakatan.

“Seluruh jajaran siap menjalankan kebijakan pimpinan secara bertahap dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan kamtib dan memberikan pelayanan terbaik kepada Warga Binaan,” kata Ade Saputra.

Ekspektasi dari Balik Jeruji

Perubahan gaya kepemimpinan yang progresif ini memantik simpati dari kalangan warga binaan. S, salah seorang narapidana, menaruh harapan besar bahwa kepemimpinan Febie dapat membawa iklim pembinaan yang lebih berkeadilan dan transparan.

“Kami berharap di bawah kepemimpinan Kalapas baru, pelayanan kepada kami makin baik dan pembinaan makin diperhatikan. Kami juga siap mengikuti aturan dan menjalankan tanggung jawab sebagai Warga Binaan,” tutur S.

Melalui konsolidasi lapangan dan perbaikan sistemik ini, Lapas Kelas IIA Pangkalpinang membidik transformasi total: memperketat benteng keamanan, menyapu bersih pelanggaran hukum internal, serta mengembalikan hakikat pemasyarakatan sebagai kawah candradimuka bagi para warga binaan****Tim/Red/IMC Group.